AW : Jakarta – Narkoba sangat rentan digunakan
usia pelajar dan mahasiswa karena usia tersebut merupakan masa bagi generasi
muda mencari jati diri dan eksistensi. Faktor lingkungan pertemanan merupakan
faktor paling berpengaruh di kalangan generasi muda yang biasanya diawali
dengan kebiasaan merokok. Demikian pernyataan Ketua Dewan Penasehat Dharma
Wanita Persatuan Badan Intelijen Negara (DWP BIN), Triwaty Marciano, pada
acara penyuluhan bagi pemuda dan pelajar, dengan tema “Bahaya Narkoba Bagi kaum
Muda dan Pencegahannya”, bertempat di Gedung Pertemuan Soekarno-Hatta Jakarta
Selatan, Minggu, 12 April 2015.
Acara penyuluhan bahaya narkoba tersebut diperuntukan
bagi pelajar Sekolah Dasar, SMP, SMA dan Mahasiswa, yang merupakan putra dan
putri pegawai BIN di lingkungan Komplek Kesatriaan Soekarno-Hatta.
Triwaty Marciano menyatakan bahwa pecandu narkoba di
Indonesia semakin meningkat dari waktu ke waktu. Oleh karena itu, acara ini
sangat tepat dilakukan sebagai bentuk pembelajaran dan pengawasan serta
sosialisasi pencegahan narkoba di kalangan generasi muda. Acara ini juga
sekaligus dalam rangka mendukung program pemerintah yang saat ini sedang
darurat narkoba dan perang terhadap narkoba.
Dokter Aisah Dahlan, Kepala Unit Narkoba RS
Bhayangkara Polri dan Pendiri Komunitas Sahabat Rekan Sebaya (SRS) dalam
ceramahnya menjelaskan tentang kerusakan otak akibat penggunaan narkoba.
Narkoba dapat merusak sistem limbik manusia yaitu sistem dalam otak yang
mengatur emosional dan salah satu bentuk narkoba yang dicontohkan adalah
merokok karena menimbulkan ketergantungan dan menstimulus kerusakan otak serta
merupakan pintu gerbang penggunaan narkoba.
“Narkoba mempunyai banyak jenisnya, seperti ganja,
opium, putau, kokain, ekstasi, alkohol, shabu-shabu, strawberry meth, benzo
diazepam, LSD, inhalan/lem, krokodil drug, dan sebagainya. Seseorang yang
berada dalam kondisi tergantung secara fisik dan mental (adiksi) terhadap
narkoba mengalami seperti fly, badai, pedaw merupakan kondisi saat mabuk atau
euphoria setelah menggunakan narkoba,” terang dr Aisah Dahlan.
Komplikasi yang diderita oleh mantan pecandu narkoba,
lanjut dr Aisha Dahlan, seperti over dosis, kerusakan organ tubuh,
komplikasi mental, gangguan memori jangka pendek, kehilangan kepercayaan keluar
dan masyarakat, serta menjadi sarana penyebaran HIV yakni virus penyebab
menurunnya daya tahan tubuh sehingga rentan terhadap penyakit infeksi.
Di akhir acara, dr. Aisah Dahlan menceritakan beberapa
pengalaman pasien-pasien penyalahgunaan narkoba, salah satunya seorang mantan
pecandu, sebut saja dengan Bunga, merupakan remaja muda yang telah memakai
narkoba kurang lebih 17 tahun lamanya, berawal dari tawaran teman
lelakinya. Adapun efek candu narkoba mengakibatkan setiap harinya harus
menghabiskan uang sebesar 2 juta per hari. Selain itu narkoba mengakibatkan
kesehatan terganggu dan divonis menghidap HIV/AIDS, sehingga tidak bisa
melahirkan secara normal dan tidak bisa menyusui. Ditambah lagi, Bunga harus
masuk unit rehabilitasi dengan merasakan siksaan untuk menghindar dari efek
kecanduan narkoba. Sampai saat ini, berkat ketekunannya telah terbebas dari
narkoba dan bergabung dalam Komunitas Sahabat Rekan Sebaya (SRS) sebagai
anggota. (AW)


